Oleh Agam Rosyidi
Kami disini bukan mengatakan agar anda tidak boleh percaya pada media massa, tapi lebih tepatnya jangan terlalu percaya, karena tidak semua media massa benar dan objektif dalam menyampaikan berita.
Memang bisa dipercaya atau tidaknya suatu media ditentukan oleh objektivitasnya. Namun ada yang lebih penting dari itu, yaitu kehati-hatian dalam menulisnya.
Karena jika tidak hati-hati maka beritanya bisa dipertanyakan kebenarannya.
Seperti kasus yang pernah saya ceritakan sebelumnya “Ketika Wartawan Salah Kutip”. Dimana disana saya sebutkan rentetan kasus yang saya alami sendiri namun disampaikan secara keliru di salah satu media massa terkenal.
Saat ini saya kembali mengajak anda mencermati berita hangat saat ini, namun anehnya antara media satu dengan media lainnya saling berbeda-beda. berikut ulasan kami…
Rumah Ustad Yusuf Mansyur Dibobol Maling
Itulah berita yang kami angkat kali ini untuk kita cermati bersama.
——————-
Detikhot.com :
Dirampok, Kerugian Ustad Yusuf Mansyur Mencapai Rp 150 Juta.
“Ada brankas yang hilang, isinya uang untuk menggaji karyawan sekitar Rp 100 sampai Rp 150 juta,” ujar Henry, asisten Ustad Yusuf Mansyur, saat dihubungi detikhot lewat telepon, Selasa (17/11/2009) malam.
——————-
KapanLagi :
Rumah Ustad Yusuf Mansyur Dibobol Maling
http://www.kapanlagi.com/h/rumah-ustad-yusuf-mansyur-dibobol-maling.html
Satu buah laptop, terus satu buah brankas yang isinya duit gaji buat karyawan sekitar Rp150 juta.
——————
TempoInteraktif :
Rumah Ustaz Yusuf Mansyur Dibobol Maling
http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2009/11/17/brk,20091117-208860,id.html
Dalam laporan ke Kepolisian Sektor Cipondoh, adik Yusuf Mansyur, Hendri, merinci barang-barang yang hilang berupa telepon genggam berbagai merek, emas, perhiasan, dan uang senilai Rp 450 juta dengan total kerugian mencapai Rp 500 juta.
—————–
Okezone :
http://news.okezone.com/read/2009/11/18/338/276645/ustaz-yusuf-mansyur-kemalingan-rp500-juta-raib
Ustad Yusuf Mansyur Kemalingan, Rp 500 Juta Raib
“Kerugian diperkirakan Rp500 juta dan saat ini sedang diselidiki,” kata Kapolsek Cipondoh, AKP Sukarna, Rabu (18/11/2009).
——————-
PosKota :
Rumah Ustad Yusuf Mansyur Dibobol Maling
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/11/17/rumah-ustad-yusuf-mansyur-dibobol-maling
Rumah ustad kondang Yusuf Mansyur di Kampung Dongkal, Kelurahan Ketapang, Cipondoh, Kota Tangerang, dibobol maling, uang tunai Rp400 juta, perhiasan dan HP BlackBerri seluruhnya senilai Rp 650 juta raib digondol pencuri, Selasa (17/11).
——————
Inilah :
Rumah Ustad Yusuf Mansyur Dibobol Maling, Rp 650 juta Raib
Uang tunai Rp400 juta, perhiasan dan HP BlackBerri seluruhnya senilai Rp 650 juta raib digondol pencuri.
—————–
Liputan6 :
Maling Bobol Rumah Ustad Yusuf Mansur
http://buser.liputan6.com/berita/200911/251381/Maling.Bobol.Rumah.Ustad.Yusuf.Mansur
Pelaku langsung masuk ke kamar Yusuf dan membuka paksa brankas berisi uang sekitar Rp 650 jutaTotal kerugian diperkirakan hampir Rp 1 miliar. serta satu kilogram perhiasan emas dan dua unit Blackberry.
—————–
Ini masih masalah nominal uang yang dicuri serta total kerugian, coba kita simak dimana Ustad Yusuf Mansyur saat itu?
Inilah : Waktu kejadian, Yusuf Mansyur dan istrinya sedang pergi ke Bali,
PosKota : Waktu kejadian, Yusuf Mansyur dan istrinya sedang pergi ke Bali.
KapanLagi : Sementara ustad muda ini, hingga kini masih berada di Jogjakarta untuk urusan dakwah……… Kebetulan ustad masih di Yogya sebelumnya ke Bali, nganter anak-anak liburan.
Tempo Interaktif : masih berada di Bali.
Liputan 6 : Saat kejadian, Yusuf sedang berdakwah di Bali.
Sungguh Aneh !!!
Soal uang memang simpang siur. Kita tidak berbicara masalah perkiraan harga emas, laptop, BB, dll, karena memang prediksi harganya sangat beragam. Kita lihat nominal uang tunai saja sudah sangat berbeda jauh, padahal sumbernya sama yaitu dari adik Ustad Yusuf Mansyur dan penyidik polsek, seharusnya tidak sampai ratusan juta. Belum lagi ketika ditanya ustad dimana ? ada yg ngomong ke bali nganter liburan anak-anaknya, trus dakwah di jogja. Namn ada pula yang ngomong dakwah di Bali. Ini belum aspek lainnya yang sangat banyak perbedaan antara media massa satu dengan yang lainnya.
Wartawan Juga Manusia.
Ya, karena itulah mereka juga bisa salah menulis. Bisa jadi keliru menulis antara 150 menjadi 450 atau sebaliknya. Namun ada kalanya narasumbernya yang berubah-ubah keterangannya.
Karena itulah validitasnya sangat rendah.
Bahkan salah satu harian besar pernah salah memampang foto salah satu tokoh yang di Wawancarai, padahal itu masuk dalam berita utama, dan fotonya dipajang sangat besar (sepertiga halaman koran). Rosyidi.com bisa tau ini karena kami kenal dengan tokoh yang ada dalam foto itu. Sebenarnya sang tokoh tersebut mampu melaporkannya, karena kenal baik dengan CEO harian tersebut. Namun sang tokoh tidak mempermasalahkan itu, karena dia tau konsekuensinya jika komplain, wartawan yang salah dalam pemberitaannya bisa diberhentikan, dan beliau tidak ingin membuat orang lain sengsara hanya karena permasalahan kecil.
Tugas wartawan memang berat, dan melencengnya pemberitaan bukan murni tanggung jawab sang pencari berita, namun seringkali ada campur tangan dari editor, karena editor menginginkan berita yang bombastis, contoh paling gampang silakan lihat film Spiderman. Kalo gak dibuat heboh bukan berita namanya. Namun jangan sampai ini meleburkan fakta.
Karena itu, sebaiknya kita kritis dalam menyimak berita-berita yang berkembang, jangan asal telan.
Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, kita ambil saja hikmah dari berita tersebut. Misalnya Ustad Yusuf Mansyur kemalingan, kita hanya bisa berkata “Inna lillahi wa inna ilahi rojiun (sesungguhnya semua milik Alloh dan akan kembali kepada-Nya)”.
Semoga kita bisa berhati-hati karena maling tidak pandang bulu, entah itu orang biasa, Ustad, Kyai, bahkan Kapolsek pun bisa kemalingan.
Ingat pesan bang Napi :
“Waspadalah.. Waspadalah..
Kejahatan bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan.
Waspadalah.. Waspadalah..”
————————————————————————————————————
Penulis : Agam Rosyidi
URL Artikel : http://rosyidi.com/jangan-terlalu-percaya-media-massa/







